ABSTRAK
Pasca otonomi daerah, pemerintah daerah semakin dituntut untuk menyediakan pelayanan sedekat mungkin dengan preferensi lokal residen dan lokal bisnis. Dengan mengetahui preferensi lokal, pemerintah daerah akan mampu menyediakan pelayanan yang efektif dengan alokasi sumberdaya yang efisien. Untuk konteks Kota Bandung, industri kreatif merupakan lokal bisnis yang layak untuk diperhitungkan. Potensi industri kreatif Kota Bandung, khususnya untuk produk fesyen (fashion) paling besar dibandingkan kota lainnya.
Sentra industri kreatif informal dengan produk utama fesyen di Kota Bandung terletak di kawasan kampung kota Cigondewah, Cibaduyut, Binong Jati, Suci, dan Cihampelas. Industri kreatif merupakan pelaku utama dan dominan dalam aktivitas produksi di kampung kota tersebut. Karena itu preferensi industri kreatif ini sangat penting untuk diakomodasi dalam rencana penyediaan pelayanan umum
perkotaan untuk sentra-sentra tersebut. Pada kenyataannya, preferensi industri kreatif belum terefleksi dalam rencana penyediaan pelayanan umum perkotaan untuk sentra-sentra industri kreatif tersebut.
Penelitian ini bertujuan mengkaji preferensi industri kreatif masing-masing sentra terhadap pelayanan umum perkotaan serta merumuskan mekanisme untuk merefleksikan preferensi tersebut ke dalam rencana penyediaan pelayanan umum perkotaan. Dengan adanya mekanisme yang tepat dalam merefleksikan preferensi tersebut, maka alokasi sumber daya menjadi lebih efektif dan efisien.
Penelitian ini menggunakan mix research methods, yaitu desk study dan survey research. Dalam desk study dilakukan kajian literatur sebagai landasan teori, landasan untuk survey research, dan penyusunan kuesioner secara tepat dan benar. Survey research dilakukan melalui penyebaran kuesioner sebanyak 150 kuesioner kepada industri kreatif di 5 sentra tersebut, dengan proporsi 30 kuesioner di masing-masing sentra. Sampel dipilih secara acak sederhana dari daftar populasi menggunakan mekanisme simple random sampling. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis statistik deskriptif, analisis statistik inferensi, analisis statistik preferensi, dan analisis kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun iklim investasi di Kota Bandung mengalami peningkatan setelah otonomi daerah diberlakukan, industri kreatif masih merasa kurang puas terhadap penyediaan pelayanan umum perkotaan. Tetapi karena karakteristik loyal yang dimilikinya, industri kreatif 5 sentra memiliki kecenderungan untuk menerima kondisi pelayanan umum perkotaan apa adanya. Meskipun industri kreatif memiliki karakteristik loyal dan tingkat mobilitas yang rendah, dalam jangka panjang, kemungkinan industri kreatif untuk pindah ke kota lain tetap ada. Kemungkinan ini akan semakin besar apabila kondisi pelayanan umum perkotaan di Kota Bandung terus dibiarkan seperti apa
adanya.
Masing-masing sentra industri kreatif memiliki preferensi terhadap pelayanan umum perkotaan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan karakteristik dari sentra-sentra tersebut yang berbeda pula. Untuk sentra Binong Jati, jenis pelayanan fisik dan non-fisik perkotaan yang seharusnya menjadi prioritas dalam penyediaannya adalah jaringan listrik dan kemudahan mendapatkan bantuan permodalan; untuk sentra Suci adalah jaringan air bersih dan jaminan keamanan; untuk sentra Cihampelas adalah jaringan air bersih dan kemudahan mendapatkan bantuan permodalan; untuk sentra Cibaduyut adalah jaringan air bersih dan kemudahan mendapatkan bantuan permodalan; serta untuk sentra Cigondewah adalah jaringan jalan dan jaminan keamanan.
Preferensi ini perlu direfleksikan dalam rencana penyediaan pelayanan umum perkotaan. Karakteristik industri kreatif yang cenderung memilih Hirschman’s loyal daripada Hirschman’s voice atau Hirschman’s exit, membuat inisiasi dari pemerintah kota dalam mengungkapkan preferensi ini, yang lebih diharapkan. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah dengan upaya pengoptimalan dan pembentukan forum pengusaha, audiensi antara forum pengusaha dengan pemerintah kota, serta pembangunan kesepakatan yang melibatkan peran aktif dari industri kreatif dan pemerintah kota. Upaya-upaya ini perlu didukung dengan pengembangan survey-survey preferensi dan pelatihan-pelatihan kepada unit kerja
pemerintah.
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi masukan bagi penyusunan rencana penyediaan pelayanan umum perkotaan untuk sentra-sentra industri kreatif di Kota Bandung. Penyediaan pelayanan umum perkotaan yang sesuai dengan urutan preferensi tersebut akan membuat alokasi sumberdaya menjadi efektif dan efisien. Dengan penyediaan pelayanan umum perkotaan yang sesuai dengan preferensinya, industri kreatif 5 sentra akan mendapat iklim berusaha yang lebih baik sehingga produktivitas mereka meningkat.
Kata Kunci: desentralisasi, industri kreatif, pelayanan umum perkotaan, 5 sentra, preferensi lokal, efektif efisien.